Terbaru
Loading...
Senin, 09 Februari 2015

Info Post
Wanita berbaju abu-abu sedang bersedih karena kehilangan semua kotaknya. Entah karena dicuri atau lenyap dimakan tembok-tembok yang kelaparan. Sejak hari dimana ia tau kotak-kotaknya hilang, ia meninggalkan kamar dan rumahnya. Pergi mendekati alam yang tak punya sekat. Tak dibatasi tembok dan lapang jauh dari rasa takut.


Tembok - tembok kamar saat ini sedang jadi musuhnya. Wahai wanita berbaju abu-abu  taukah engkau jika kotak- kotak itu masih merintih. Belum padam keinginannya dimakan dingin tembok yang kelaparan. Pulanglah, hapus jarak dan tanya apa yang menjadi alasan kemarahannya.



Kotak- kotak itu masih jadi kesayangannya. Itu lah yang membuatnya enggan untuk pulang. Rasa takut yang menunggunya di rumah. Takut atas rasa kehilangan dari kotak- kotak kesayangannya. Berapa lama ia tinggalkan itu ? Berapa lama ia tinggalkan kesuyian itu ? Berapa lama ia tinggalkan langit- langit kamar itu ?



Pilihannya untuk pergi menjauhi tembok dingin menjadi sumber masalah baru. Lari menjauhi jawaban. Pergi mendekati pertanyaan. Dirinya yang mengecewakan dan terkecewakan keputusan.



Banyak jejak – jejak rasa yang ia temukan dalam pelarian kehilangan. Bukan hanya satu suara yang ia dengar saat rintihan kesepiannya datang. Membuatnya sulit hidup dalam pelarian. Malang. Ia mengasihi dirinya sendiri.



Tak ada yang tau. Tak ada yang lebih tau dari ketidaktahuannya. Rasa kehilangan yang mengikat tubuhnya menyedot lebih dari setengah oksigen yang ia punya. Hampir membuatnya mati.



Di tempat yang lain. Di antah berantah sana. Api harapan masih terjaga untuk menyala. Dari kotak- kotak yang tertelan. Dari sumber kehilangan. Menanti wanita berbaju abu-abu untuk pulang. Pulang yang benar- benar pulang.



#4

0 komentar:

Posting Komentar