Terbaru
Loading...
Rabu, 11 September 2013

Info Post
Catatan Mimpi #1

Ini Hanya Cerita Kecil
Rabu, 2 Agustus 1994 pukul 10.00 WIB. Kala itu senyum dan rona kebahagiaan terpancar dari wajah – wajah yang sama sekali belum aku kenali satu persatu. Semua wajah – wajah itu menyambutku dengan suka cita. Tangan – tangan mereka seakan berebutan untuk meraih dan menggendong tubuhku yang kecil. Mereka lah yang perlahan- lahan ku tau sebagai keluargaku yang kini ku sebut Ayah dan Ibu.
Kini badanku tak lagi kecil dan rentan seperti pertama kali aku diberi kesempatan untuk berada di tengah- tengah mereka. Umurku sudah menginjak belasan tahun. Aku pun sudah tidak lagi menjadi anak satu- satunya di rumah mungil milik keluargaku. Karena sekarang, ada sosok cantik yang menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga kami. Dia adalah adikku. Umurnya 10 tahun.
Harapan dan doa, mereka ; Ayah dan Ibuku selipkan dalam sebuah nama yang  menjadi pengenal utama dari diriku. Lia Lathifah. Nama yang tercatat dalam akte kelahiran, ijazah sekolah dan tanda pengenal. Aku seorang gadis yang terlihat berbeda diantara gadis seumuranku yang lain. Itu karena penampilanku yang cuek dan tak pandai bersolek. Banyak yang protes dengan penampilanku yang seperti ini.  Yang selalu di dominasi dengan jeans , t- shirt dan jacket atau sweater. Tapi aku nyaman berpakaian seperti itu. Simple gak ribet, gak berlebihan dan enak dilihat, tentunya menutup aurat. Meskipun terkadang apa yang aku kenakan belum benar- benar sesuai dengan konsep menutup aurat yang di sarankan Islam. Aku hanya ingin menjadi diri sendiri. Berpenampilan apa adannya walaupun kadang terlihat 'terlalu' apa adanya.
            Umurku 18 tahun. Aku terlahir dalam keluarga sederhana. Rumah kami tidak besar tapi tak bisa juga dibilang kecil ya cukup lah untuk menampung aku dan ke 3 anggota keluargaku, serta barang-barang mungil yang menjadi penghuni di rumah. Ayahku seorang pegawai Swasta. Dia bekerja di sebuah bank ternama di Bandung. Hmmmmm jangan berpikir kalau Ayahku bekerja sebagai perkerja kantoran yang duduk di depan komputer sambil mengkalkulasikan pengeluaran dan pemasukan kantor atau berdiri di depan meja dan melayani orang -orang yang akan mengambil atau menabungkan uangnnya di sana. Dia hanya bekerja  sebagai Security. Lebih tepatnnya Security senior yang sudah belasan tahun mengabdi di kantor tersebut. Pekerjaan yang mungkin di anggap remeh oleh sebagian orang yang menganggap diri mereka sudah memiliki segalanya. Tapi bagi Ayah pekerjaan itu lebih dari segalanya. Dari pekerjaan itu lah beliau bisa memberikan kehidupan yang layak bagi 3 bidadarinya . Aku, adikku dan Ibu tentunya.
Bukan rasa nyaman karena empuknya kursi kantor yang ia rasakan saat bekerja, tapi panas yang menyengat yang selalu menjadi sahabatnya setiap hari. Dan disaat orang- orang berteduh tak ingin terbasahi oleh air hujan Ayahku justru bertahan di bawah gemericik hujan. Merelakan seluruh bagian tubuhnya basah oleh dinginnya air hujan, hanya untuk membantu para nasabah atau karyawan menyebrangkan kendaraan mereka ke tepi sisi jalan yang lain. Tak jarang ia harus pulang dengan pakaian yang basah kuyup. Tapi tak pernah ia mengeluh dihadapan kami.
Ibu selalu membuatkan teh hangat kesukaan Ayah saat Ayah tiba di rumah. Ayah selalu menghabis kan secangkir teh yang ibu buat tanpa sisa .Dan dia selalu tersenyum setelah meminumnnya. Seakan rasa lelah dan dinginnya sisa- sisa air hujan yang menerpa kulitnya menghilang ikut terbawa bersama air teh yang ia minum.

0 komentar:

Posting Komentar