Ini Hanya Cerita Kecil
Rabu, 2 Agustus 1994 pukul 10.00 WIB.
Kala itu senyum dan rona kebahagiaan terpancar dari wajah – wajah yang sama
sekali belum aku kenali satu persatu. Semua wajah – wajah itu menyambutku
dengan suka cita. Tangan – tangan mereka seakan berebutan untuk meraih dan
menggendong tubuhku yang kecil. Mereka lah yang perlahan- lahan ku tau sebagai
keluargaku yang kini ku sebut Ayah dan Ibu.
Kini badanku tak lagi kecil dan rentan
seperti pertama kali aku diberi kesempatan untuk berada di tengah- tengah
mereka. Umurku sudah menginjak belasan tahun. Aku pun sudah tidak lagi menjadi
anak satu- satunya di rumah mungil milik keluargaku. Karena sekarang, ada sosok
cantik yang menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga kami. Dia adalah adikku.
Umurnya 10 tahun.
Harapan dan doa, mereka ; Ayah dan
Ibuku selipkan dalam sebuah nama yang
menjadi pengenal utama dari diriku. Lia Lathifah. Nama yang tercatat
dalam akte kelahiran, ijazah sekolah dan tanda pengenal. Aku seorang gadis yang
terlihat berbeda diantara gadis seumuranku yang lain. Itu karena penampilanku
yang cuek dan tak pandai bersolek. Banyak yang protes dengan penampilanku yang
seperti ini. Yang selalu di dominasi
dengan jeans , t- shirt dan jacket atau sweater. Tapi aku nyaman berpakaian seperti itu. Simple gak ribet,
gak berlebihan dan enak dilihat, tentunya menutup aurat. Meskipun terkadang apa
yang aku kenakan belum benar- benar sesuai dengan konsep menutup aurat yang di
sarankan Islam. Aku hanya ingin menjadi diri sendiri. Berpenampilan apa adannya
walaupun kadang terlihat 'terlalu' apa adanya.
Umurku 18
tahun. Aku terlahir dalam keluarga sederhana. Rumah kami tidak besar tapi tak
bisa juga dibilang kecil ya cukup lah untuk menampung aku dan ke 3 anggota
keluargaku, serta barang-barang mungil yang menjadi penghuni di rumah. Ayahku
seorang pegawai Swasta. Dia bekerja di sebuah bank ternama di Bandung. Hmmmmm
jangan berpikir kalau Ayahku bekerja sebagai perkerja kantoran yang duduk di
depan komputer sambil mengkalkulasikan pengeluaran dan pemasukan kantor atau
berdiri di depan meja dan melayani orang -orang yang akan mengambil atau
menabungkan uangnnya di sana. Dia hanya bekerja
sebagai Security. Lebih tepatnnya Security senior yang sudah belasan
tahun mengabdi di kantor tersebut. Pekerjaan yang mungkin di anggap remeh oleh
sebagian orang yang menganggap diri mereka sudah memiliki segalanya. Tapi bagi
Ayah pekerjaan itu lebih dari segalanya. Dari pekerjaan itu lah beliau bisa
memberikan kehidupan yang layak bagi 3 bidadarinya . Aku, adikku dan Ibu
tentunya.
Bukan rasa nyaman karena empuknya kursi
kantor yang ia rasakan saat bekerja, tapi panas yang menyengat yang selalu
menjadi sahabatnya setiap hari. Dan disaat orang- orang berteduh tak ingin
terbasahi oleh air hujan Ayahku justru bertahan di bawah gemericik hujan. Merelakan
seluruh bagian tubuhnya basah oleh dinginnya air hujan, hanya untuk membantu
para nasabah atau karyawan menyebrangkan kendaraan mereka ke tepi sisi jalan
yang lain. Tak jarang ia harus pulang dengan pakaian yang basah kuyup. Tapi tak
pernah ia mengeluh dihadapan kami.
Ibu selalu membuatkan teh hangat kesukaan
Ayah saat Ayah tiba di rumah. Ayah selalu menghabis kan secangkir teh yang ibu
buat tanpa sisa .Dan dia selalu tersenyum setelah meminumnnya. Seakan rasa
lelah dan dinginnya sisa- sisa air hujan yang menerpa kulitnya menghilang ikut
terbawa bersama air teh yang ia minum.
0 komentar:
Posting Komentar