Terbaru
Loading...
Sabtu, 08 Maret 2014

Info Post
Negeri di atas awan
Negeri di atas awan
Lamat – lamat kudengar gurauanmu menghilang di balik senyum singkat barusan. Senyum yang ku tahu pasti hanya untuk menyembunyikan luka yang kau kulum dalam diam.

Aku sedang sakit , katamu sambil menunduk menyembunyikan air mata. Lantas ku duduk di sebalahmu . Berdiam diri sambil sesekali mengelus pundakmu yang berguncang karena menahan tangis.

Keluarkan saja, kamu pun butuh waktu untuk menangis sepuasnya bukan ?
Menagislah sampai rasa muak itu muncul. Menangislah sampai kau merasa dilecehkan oleh setiap tetesan air mata yang keluar. Menangislah sampai butiran – butiran itu seakan mengejekkmu dan berkata ’kau tidak berdaya’ karena disaat itu kesadaranmu akan terpental jauh dalam keyakinan bahwa kamu adalah sekuat dirimu yang terkuatkan.

Kita sendiri tau, tak ada obat yang manjur untuk mengobati selain diri sendiri. Tapi bukan berarti keberadaan orang lain tidak membantu apa- apa . Setidaknya mereka bisa menjadi alasan untuk mu tetap tertawa meskipun sebenarnya keinginan diam lebih besar menarikmu kedalam pusarannya dan menghisap perhatianmu lebih kuat.

Rasa sakit itu seperti pasir hisap, semakin kamu bergerak, semakin kamu meronta – ronta kamu akan semakin ditenggelamkannya. Nikmati saja, sambil diam- diam melakukan rencana untuk meminta pertolongan atau memikirkan cara agar bisa keluar dari sana. Pelan tapi terukur. Karena dengan menikmatinya pun, kamu bisa saja tetap terhisap kalau kau tidak memperhitungkannya secara benar.

Teman, pada akhirnya proses kehilangan akan membawa kita pada satu sikap : penerimaan. Meski dengan berdiri di genangan luka. Manusia akan menyadari bahwa hidup akan terus berjalan, bersama atau tanpa orang-orang yang kita sayangi. Bahagia atau kehilangan kebahagiaan. Bukan tidak bahagia tapi kehilangan kebahagiaan. Maka cari dan temukan lagi kebahagiaanmu.

Tidak ada yang tidak berjalan beriringan. Kita yang memilih dan kita yang menentukan . Akan berjalan sekarang atau mengulur waktu lebih lama dan berjalan beberapa saat lagi. Kita bukan tidak bisa tetapi belum mau mencoba.

Teman, seseorang pernah berkata bahwa duniamu tidak boleh berhenti hanya dengan satu rasa saja. Duniamu tak perlu jungkir balik hanya dengan satu perasaan . Itu hanya satu , hanya rasa sakit.

Sedangkan berapa banyak tempat di bumi ini yang harus atau belum pernah kau kunjungi ?

Berapa banyak keindahan yang Tuhan ciptakan yang bisa kau reguk sepuasnya ?

Berapa banyak kebahagiaan yang tercecer yang sebenarnya bisa kau dapati dengan mudah di segala tempat di bumi ini ? Banyak .

Tak terhitung dan tak sebanding dengan secul rasa sakit yang kau rasa saat ini. Semesta yang menjadi rumahmu. Semesta yang kau tau punya banyak kotak- kotak hadiah tersebunyi. Carilah seperti kau mencari kebahagiaanmu. Semesta jawaban kedua yang bisa membaikkan perasaanmu selain dirimu sendiri.

Ambil lah waktu sesingkat – singkatnya untuk menangis. Semalaman saja kalau perlu. Agar esok pagi saat bertemu, aku sudah bisa memaknai senyummu sebagai senyum kebahagiaan. Bukan lagi senyum luka yang coba dibahagiakan.











NB : Untuk sahabat- sahabatku tersayang . Berbahagialah karena merasa sakit, berarti Tuhan sedang menggiringmu untuk berusaha menaiki tangga dengan level yang lebih tinggi.

0 komentar:

Posting Komentar