Awan bertumpuk indah saat kayuhan sepedahnya melaju menuju sebuah bukit di pinggiran kota. Dalam diam tatapannya kosong, meski tertuju pada jalan di depannya namun fokusnya tak ada pada waktu dan tempat yang sama.
Setiap sore, tanpa meminta cuaca berbaik hati untuk tersenyum. Ia akan selalu bergegas menuju bukit tempat segalanya digantungkan. Penyesalan, rindu dan juga kenangan. Hanya untuk diam , diam , diam dan diam, seakan dengan diamlah ia mencurahkan semuanya . Tentang kesepian, tentang kerinduan dan tentang perih yang selalu ia jinjing di salah satu sisi setir sepedah.
Dalam setiap jejakmu aku tau banyak rindu menetes di sana. Kebanyakam menggenang layaknya geanangan air yang di tinggalkan hujan setelah kedatangannya. Sisanya hanya rasa sesal yang selalu mengekor di belakangmu tak kala kau mengingat sosok gadis kecil bergigi ompong sedang memegang loli kesukaannya sambil berkata “ Tunggu aku, tunggu aku” ketika sepedah yang kau tumpangi melaju mendahului gadis itu.
Kadang ku titipkan undangan terselubung di balik hembusan angin yang menggoyangkan pelan rambutmu .Menggiringmu menuju bukit untuk tak melakukan apapun seperti biasanya. Kadang, ketika rindu benar- benar terkunci di tubuh yang kini hanya bisa melayang kosong.
Saat itu kau datang seraya membanting sepedah sambarang dan menangis sejadi- jadinya. Meski kau sering datang ke bukit ini dengan wajah sendu tapi tak pernah ku lihat air mata sedikit pun mengalir di pipimu.
Kau selalu tak ingin terlihat lemah di depanku bukan ? Kau wanita terkuat yang selalu menjadi malaikat pelindungku. Ada apa denganmu ? Tolong bicaralah, seperti aku yang dulu selalu membagi segala yang kurasa kepadamu. Bicaralah !!! Jangan diam sambil menangis seperti ini. Jangan terus anggap aku seperti gadis kecil bergigi ompong yang polos tak tau apa-apa lagi. Meski tubuhku tertahan di usia belasan, namun bukan berarti aku tak akan mengerti semua yang akan kau bicarakan.Bicaralah kak !!
Tiba – tiba kau bangkit , dan tanpa aba- aba langsung melempar sepedah yang kini sudah terguling jatuh kebawah bukit sambil berteriak- teriak. Aku tercekat.
“Apa yang kau lakukan kak, Itu sepedah kesayanganku “ tukasku refleks berlari mengejar sepedaah yang semakin jatuh menjauh dan menghentikan langkah ketika sadar atas ketidak mampuanku menggapai sepedah tersebut.
Ku lihat tangismu mulai mereda. Di depan mu langit menguning memberi keluasaan pada senja untuk kehadirannya. Kau terdiam. Menikmati semburat senja dengan rembesan sesal masa lalu disana sini. Aku duduk di sebelahmu. Kau menengok namun tak ada senyum khas yang tersungging sesudahnya, lalu kau menatap senja lagi. Tanpa jeda menikmatinya.
Hari ini, sore ini ku titipkan pesan pada senja bersimpul sesal untuk terakhir kalinya.
Tak selalu di tempat ini. Tak perlu takut hujan . Senjamu kan aman dalam ingatan tentangku. Serat-serat kenangan yang terdapat dalam sutra awan selalu melukiskan kenangan tentang kita.Masa kecil yang bahagia. Senja kali ini akan menghabiskan sesalmu. Dalam bias jingga yang perlahan muncul , terkenang dan hilang dibawa malam.
Setiap senja di hari- hari esok cukup kau nikmati dengan rasa rindu dan senyum yang khas itu. Bukan lagi dengan sesal atas keberadaanku yang tak mampu saling genggam denganmu sambil menikmati senja. Kak, nikmailah setiap senja seperti permen loli yang selalu kubagi denganmu dulu. Tanpa rasa ragu, dan tanpa malu ,tanpa sendu menggelayut diwajahmu. Cerialah dalam senja. Tak apa meski hanya sebentar, asalkan kau mampu tertawa seperti saat aku masih berwujud nyata di depanmu sebagai sesosok adik kecil bergigi ompong .
Jangan pernah ragu untuk berbicara pada senja tentang hidupmu yang tak mampu kau habiskan lagi bersamaku, karena senja mengiringi kehadiranku di sampingmu. Pahamilah ia seperti kau memahamiku selama belasan tahun dulu. Aku menyayangimu seperti senja yang terus menjadikan malam sebagai rumahnya. Meski ia harus hilang karena gelap membawanya, ia ikhlas dalam dekapan dingin yang esok disambut fajar.
Ingat lah dalam senja aku berada. Aku pergi dalam ikhlasmu disenja sore ini.
Dari adikmu tercinta

0 komentar:
Posting Komentar