Hatiku seakan terobek oleh pandangan tajam dan dingin dari matamu. Entah mengapa aku yakin dan percaya pada mata itu. Yakin akan segala sesuatu yang aku rasa. Yakin akan segala sesuatu yang pasti kau rasa juga. Tapi pandanganku terganggu oleh bayangan di belakangmu. Bayangan yang seakan memasungmu dalam waktu yang lama.
Kau menggodaku. Tetapi kau tak bergerak meninggalkan bayangan itu. Kau tau aku bisa melepaskan pasungan bayangan itu darimu . Tapi kau tak lantas memintaku untuk membantumu. Kau hanya diam. Menikmati bayangan dari masa lalu. Tanpa melihat aku yang ada di depanmu dengan kedua mata itu.
Kau bahkan tak melepaskanku . Meski kau tau dengan pasti. Ada satu ikatan ynag belum bisa kau lepaskan dari bayangan itu. Kamu masih menunggu yang lalu datang kembali bukan ? Namun kenapa kau memilih untuk berjudi dengan perasaanku ? Memulai sesuatu yang kau tahu percis akhirnya akan seperti apa. Menyengsarakanmu, menghancurkanku, dan menghapus kita.
Bisakah kau hanya melihat aku ? Aku yang merasa kau jebak . Aku yang merasa telah kau ikat . Aku yang merasa telah masuk ke dalam pusaranmu yang kuat. Aku bahkan tak tau bagaimana caranya untuk keluar dari pusaranmu. Karena hanya kau yang tahu caranya. Karena saat aku masuk, kau yang paling tau kemana jalan yang harus kita tempuh untuk mencapai pusat pusaran ini. Pusaran milikmu.
Aku ingin menyerah . Membenci waktu. Dan membuang namamu sejauh mungkin. Tapi aku tak bisa. Selalu ada magnet yang menarikku untuk tetap memandangmu. Untuk tetap ingin berada di sampingmu. Untuk tetap mengingatkanmu makan saat waktumu dirasa tak cukup untuk itu. Untuk tetap bisa menikmati kopi hitam kesukaan kita di meja yang sama. Di tempat yang sama. Sambil menikmati senja diantara tumpukan buku usang yang menjadi favoritmu.
Inikah caramu melenyapkanku ? Terus bermain – main dengan bayangan itu di depanku. Menikmatinya sambil tersenyum lebar. Sampai tak kau sadari aku disini menangis. Melangkah pun aku tak sanggup.
Rasanya seluruh energi yang ada lenyap oleh rasa sakit yang terus menggerogoti secara perlahan. Meruntuhkan tembok pertahanan yang dengan susah payah ku bangun seblum kedatanganmu. Aku hancur . Menjadi serpihan – serpihan paling kecil. Yang siap terbang di tiup angin sembarangan.
Aku lelah. Aku mundur teratur bak sebuah batalion perang yang tau jumlah pasukannya tak akan mampu menjangkau dan merusak benteng pertahanan musuh. Aku benar- benar menyerah.
Aku lelah. Aku mundur teratur bak sebuah batalion perang yang tau jumlah pasukannya tak akan mampu menjangkau dan merusak benteng pertahanan musuh. Aku benar- benar menyerah.
Biarlah aku melangkah dengan serpihan yang tersisa. Dengan rasa yang terburai tanpa bisa di cegah. Dengan terseok- seok pun tak apa bagiku. Aku takkan berharap lebih lagi. Biar saja perasaan ini mati secara perlahan meski dalam waktu yang lama .Tak apalah yang penting aku tidak diam. Tetap berjalan meski dalam gamang.
0 komentar:
Posting Komentar