Terbaru
Loading...
Sabtu, 14 September 2013

Info Post
Catatan Mimpi #3

                                                                                                Sapa menyapa antara mimpi dan kenyataan
Yang satu pergi yang satu datang
Yang satu hidup yang lain tersingkir

Cerita ini berawal dari novel – novel fiksi yang sering aku baca. Mereka lah yang telah menyebabkan semuanya ini terjadi. Mereka lah yang senantiasa menggangguku, mengajakku untuk masuk dan berpetualang dalam setiap dunia yang berbeda. Aku suka ketika mencium harum kertas baru dalam setiap lembaran novel yang ku pegang. Harumnya sedikit keras dan menyentak hidung. Namun, dari situ lah aku belajar tentang bagaimana mensyukuri hidup. Bahwa ketika dalam perjalanan hidup kita di sambut oleh sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan bahkan ketika hidup kita tidak selalu berjalan baik. Sepatutnya kita harus bisa bersyukur. Kita harus mampu membuka satu persatu halam dalam setiap lembaran cerita hidup kita. Karena disitulah kita akan menemukan makna yang sesungguhnya. Bukan hanya rasa sakit, kecewa , atau ketidakpuasan dalam hidup yang kita jalani. Tetapi kita akan menemukan kebahagian yang tak bisa di hitung jumlahnya. Karena  dalam setiap hal yang pahit sekalipun, pasti tersimpan makna yang bisa kita petik dan makna itu pasti akan membawa kebaikan untuk diri kita.
Anggap saja aku sedang berada di sebuah tempat nan jauh disana. Tempat yang di kelilingi galaksi , planet – planet dan bintang . Dan nove l- novel itu lah planet yang siap untuk aku jelajahi. Meminta untuk di kunjungi. Dan mengijinkanku untuk mencari tahu apa yang ada di dalammnya. Setiap planet memiliki karakter yang berbeda sama seperti novel – novel yang sering aku baca.
Dari novel – novel itu lah aku mengenal kata imajinasi. Dan dari imajinasi itu lah aku sering duduk sendiri sambil memegang sebuah pensil di tangan. Mencoba membuat imajinasiku menjadi nyata dalam sebuah cerita. Terkadang aku terlalu tenggelam bermain – main dengan konflik, plot dan semua karakter dalam sebuah dunia baruku. Sampai – sampai aku melupakan dunia nyata. Dunia yang sesungguhnya lebih bisa aku rasakan keberadaannya.
            “Li , lagi apa sih ? Perhatiin tuh Bu Titin dia lagi bahas soal “ Tegur Yesti seorang teman di masa SMA saat pelajaran Kimia.
            “Hmmmmmm. Ia nanti tanggung“ jawabku singkat sambil tak berpaling dari kertas berjilid yang sering ku gunakan sebagai tempat menuliskan semua imajenasi ceritaku.
            “Udah deh biarin, dia tuh kalau uda pegang pensil atau pulpen plus note kecil itu pasti udah melanglang buana di dunia yang berbeda sama kita “ Sahut seorang teman yang duduk di bangku depan.
Begitulah ketika aku sudah tenggelam ke dalam duniaku. Sulit untuk menghentikan tangan ku saat sudah mulai menulis dalam notes kesayanganku. Sekarang note kusam yang dulu menemaniku sudah tersimpan di rak bukuku dan sudah tergantikan oleh lembaran – lembaran Microsoft Word di laptop. 
Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas adalah masa- masa awal sekaligus masa- masa paling produktif dalam perjalanan dunia tulis – menulis. Tak ada hari yang ku lewatkan tanpa menulis. Notes yang sudah seperti sahabatku itu tak pernah luput dari pandanganku. Sebentar saja ia menghilang aku langsung kelabakan seperti ikan yang kekurangan air.  Jika di tanya, barang apa yang paling penting buatku, secara cepat aku akan menjawab notes. Karena disitulah tempat aku menuliskan semua yang aku rasa, yang aku lihat dan yang aku pikirkan. Disitulah banyak ide – ide gila yang tertulis dengan penuh optimisme. Banyak tulisan seperti puisi, cerpen bahkan hal – hal yang tidak penting sekalipun di dalamnya.
Saat sedang mempersiapkan Ujian Akhir Nasional aku justru lebih memilih membawa notes kesayanganku dari pada buku – buku pelajaran yang seharusnya menjadi buku wajib yang aku bawa dalam tas. Aku sering ditegur oleh teman atau guru yang sedikit kesal melihat kesibukanku di tengah pelajaran yang mereka ajarkan.
Pernah suatu ketika aku di marahi habis- habisan karena tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru mata pelajaran Fisika. Lebih tepatnya soal latihan langsung yang ia berikan saat materi baru selesai dijelaskan. Tulisan yang harusnya berisi hitungan- hitungan konsep cahaya, pada saat itu malah berubah menjadi runtuyan bait- bait puisi. Dan saat Guru tersebut menanyakan soal latihannya kepadaku. Dengan polosnya aku hanya tersenyum, nyengir 3 jari sambil menggaruk- garuk kepala yang tak gatal. Setelah itu sudah di tebak apa yang terjadi padaku.
Salah satu teman menyebut masa ini sebagai masa produktif sekaligus masa kelam buatku. Namun dengan kegiatan menulis yang sering mengorbankan waktu belajar kala itu, aku masih bisa mengejar materi pelajaran. Awalnya, aku mengalami penurunan prestasi akademik. Tetapi setelah bisa mengendalikan mood dan kondisi , aku bisa berada pada posisi prestasiku yang sesungguhnya. Tetap bisa membanggakan orang tua dan bisa bersaing sehat dengan teman– teman kelas yang lain. Sebagai siswa yang masuk ke tingkat 10 besar prestasi akademik yang lumayan bagus.
Terlalu mencintai menulis. Mungkin itu kata yang tepat untuk mendeskripsikan masa- masa SMA. Tetapi bukan berarti aku tidak menyukai hal lain selain menulis. Sebelum aku mengenal lebih dalam dengan tulisan. Aku sempat pernah menyukai banyak hal yang membuatku menjadi anak tersibuk dan teraktif di Sekolah. Dari mulai menjadi pengurus OSIS, mengikuti kegiatan ekstrakulikuler sekolah dan juga ngeband. Salah satu yang paling menonjol adalah olah raga. Bulutangkis, Basket, Volly, semuanya menjadi kegemaranku. Beberapa orang menyadari bahwa aku memiliki potensi yang menonjol dalam bidang olah raga. Termasuk orang tuaku. Dan yang paling berjasa dalam mendobrak kemampuanku di bidang ini adalah Guru Olah Ragaku . Ibu Wulan yang pada saat itu memberikanku kesempatan untuk lebih berkembang dalam bidang olah raga. Beliau banyak mengajarkanku tentang semangat dan motivasi. Ketika seorang wanita muslim menyukai olah raga itu bukanlah hambatan yang harus membuat mereka terhenti. Justru ketika mengenakan jilbab kita harus lebih bangga. Kita harus menunjukkan bahwa apa yang kita pakai bukanlah hambatan tetapi ciri khas.
Dengan potensi yang aku punya banyak kesempatan untuk mengikuti lomba datang kepadaku. Tak jarang aku terpilih menjadi satu- satunya perwakilah sekolah dalam perlombaan. Dan prestasi tertinggiku adalah saat mampu menjadi juara ke 2 Lomba Lompat Jauh Putri se- Kota Bandung.
Apakah aku seorang Atlet ? pertanyaan itulah yang mungkin mengisi benak setiap orang yang mengenalku. Bukan . Aku bukan seorang Atlet. Aku hanya menyukai olah raga bukan ahli dalam olah raga. Belum pantas rasanya gelar ‘Atlet’ di berikan kepadaku. Rasanya masih terlalu jauh mendeskripsikan potensi yang ada dengan potensi seorang atelit sebenarnya. Atelit itu identik dengan mempunyai prestasi yang banyak. Mempunyai banyak piala , piagam dan penghargaan.
Sedangkan aku ? masih jauh dari kata ‘banyak memiliki piagam atau penghargaan’ bahkan piala pun aku tidak punya. Hanya sebuah sertifikatlah yang menjadi bukti nyata bahwa aku pernah berkecimpung di bidang olah raga.
Pernah suatu ketika ku gantungkan banyak mimpi pada potensiku dalam bidang olah raga. Tetapi seketika mimpi itu musnah saat ada beberapa hal yang membuatku tidak bisa lagi sepenuhnya fokus dalam bidang olah raga. Bahkan sekarang aku tidak bisa lagi bebas berolah raga seperti dulu. Dalam ke-galauan yang aku rasakan. Ku tuliskan semua ini dalam sebuah puisi berjudul Angin. Tentang kegalauan ku dalam mimpi dan hobi. Tentang apa sebenarnya mimpi dan keahlian yang harus aku tekuni. Dan tentang harapanku mengenai mimpi.
Namun Allah mempunyai rencana lain buatku. Beberapa bulan setalah mimpiku dalam bidang olah raga kandas. Allah memberikan sebuah kejutan yang tak terasa olehku. Dia menyusupkan sebuah potensi dari apa yang lagi- lagi aku sukai yaitu menulis. Menulis dari membaca. Membaca untuk menulis.
Degan modal menulis lah aku memutuskan untuk masuk ke salah satu Universitas Negeri dan mengambil jurusan yang tidak jauh dari bidang yang aku sukai. Awalnya Ibuku sangat kaget ketika mengatahui aku memilih jurusan tersebut karena sampai saat aku memberitahunya tentang keinginanku, beliau belum tau bahwa aku bisa dan mampu untuk membuat sebuah tulisan. Yang beliau tau selama ini hanyalah hobi baruku yaitu membaca bukan menulis. Dan ada sedikit keraguan yang beliau lontarkan dalam beberapa percakapan kami.
“Teteh yakin mau ngambil jurusan itu ?“ tanya Ibu saat kami sedang asik menonton televisi bersama.
“Hmmmm yakin atuh kan udah di pikirin, teteh juga udah cari – cari info di Internet tentang jurusan itu“ jawabku sambil tak memalingkan muka dari depan televisi.
“Coba, nanti kerjanya jadi apa ?” tanya Ibu penasaran. Jujur saja mungkin jurusan yang aku ambil ini masih awam di telinga orang banyak terutama Ibu dan seluruh keluargaku. Aku lah yang pertama kali masuk ke jurusan itu. Dan aku jugalah yang pertama kali memilih jalur yang berbeda dengan anggota keluargaku yang lain terutama keluarga dari Ibu.
“Nanti kerjanya bisa jadi penulis, bisa juga jadi pembawa berita yang kayak di TV terus di Radio juga bisa pokonya banyak deh “ jawabku singkat
“Emang, teteh bisa nulis gitu ? “ pertanyaan yang menurutku wajar di lontarkan oleh Ibu. Aku hanya tertawa kecil . Lalu menjawab
“Ya bisa atuh, insyaallah bisa . Selama ini teteh baca novel segitu banyaknya, eh gak banyak ketang ya lumayan lah, kan buat belajar nulis. Teteh juga sering nulis- nulis di kertas notes yang putih. Tau kan ? Nah itu tulisan teteh semua “
“Iya, itu yang tulisannya acak- acakan tea “ timpal adikku di samping Ibu yang sedari tadi menguping pembicaraan.
“Oh ... “ jawab Ibu singkat.
Sampai akhirnya aku bisa membuktikan itu pada Ibu. Dengan meminta do’a restu kepada beliau agar tulisanku di muat saat aku akan mengirimkannya ke beberapa koran dan majalaah ternama. Meski tulisan itu sampai sekarang belum juga ada yang berhasil menghiasi salah satu halaman majalah atau koran. Dan kini menulis adalah bidang baru yang menjadi awal mimpi- mimpi baruku tercipta.
 

0 komentar:

Posting Komentar