Sapa menyapa antara mimpi dan kenyataan
Yang satu pergi yang satu datang
Yang
satu hidup yang lain tersingkir
Cerita ini berawal dari novel – novel
fiksi yang sering aku baca. Mereka lah yang telah menyebabkan semuanya ini
terjadi. Mereka lah yang senantiasa menggangguku, mengajakku untuk masuk dan
berpetualang dalam setiap dunia yang berbeda. Aku suka ketika mencium harum
kertas baru dalam setiap lembaran novel yang ku pegang. Harumnya sedikit keras
dan menyentak hidung. Namun, dari situ lah aku belajar tentang bagaimana
mensyukuri hidup. Bahwa ketika dalam perjalanan hidup kita di sambut oleh
sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan bahkan ketika hidup
kita tidak selalu berjalan baik. Sepatutnya kita harus bisa bersyukur. Kita
harus mampu membuka satu persatu halam dalam setiap lembaran cerita hidup kita.
Karena disitulah kita akan menemukan makna yang sesungguhnya. Bukan hanya rasa
sakit, kecewa , atau ketidakpuasan dalam hidup yang kita jalani. Tetapi kita
akan menemukan kebahagian yang tak bisa di hitung jumlahnya. Karena dalam setiap hal yang pahit sekalipun, pasti
tersimpan makna yang bisa kita petik dan makna itu pasti akan membawa kebaikan
untuk diri kita.
Anggap saja aku sedang berada di sebuah
tempat nan jauh disana. Tempat yang di kelilingi galaksi , planet – planet dan
bintang . Dan nove l- novel itu lah planet yang siap untuk aku jelajahi.
Meminta untuk di kunjungi. Dan mengijinkanku untuk mencari tahu apa yang ada di
dalammnya. Setiap planet memiliki karakter yang berbeda sama seperti novel –
novel yang sering aku baca.
Dari novel – novel itu lah aku mengenal
kata imajinasi. Dan dari imajinasi itu lah aku sering duduk sendiri sambil
memegang sebuah pensil di tangan. Mencoba membuat imajinasiku menjadi nyata
dalam sebuah cerita. Terkadang aku terlalu tenggelam bermain – main dengan konflik,
plot dan semua karakter dalam sebuah dunia baruku. Sampai – sampai aku melupakan
dunia nyata. Dunia yang sesungguhnya lebih bisa aku rasakan keberadaannya.
“Li
, lagi apa sih ? Perhatiin tuh Bu Titin dia lagi bahas soal “ Tegur Yesti seorang
teman di masa SMA saat pelajaran Kimia.
“Hmmmmmm.
Ia nanti tanggung“ jawabku singkat sambil tak berpaling dari kertas berjilid
yang sering ku gunakan sebagai tempat menuliskan semua imajenasi ceritaku.
“Udah
deh biarin, dia tuh kalau uda pegang pensil atau pulpen plus note kecil itu pasti
udah melanglang buana di dunia yang berbeda sama kita “ Sahut seorang teman
yang duduk di bangku depan.
Begitulah ketika aku sudah tenggelam ke
dalam duniaku. Sulit untuk menghentikan tangan ku saat sudah mulai menulis
dalam notes kesayanganku. Sekarang note
kusam yang dulu menemaniku sudah tersimpan di rak bukuku dan sudah tergantikan
oleh lembaran – lembaran Microsoft Word di laptop.
Saat duduk di bangku Sekolah Menengah
Atas adalah masa- masa awal sekaligus masa- masa paling produktif dalam
perjalanan dunia tulis – menulis. Tak ada hari yang ku lewatkan tanpa menulis.
Notes yang sudah seperti sahabatku itu tak pernah luput dari pandanganku.
Sebentar saja ia menghilang aku langsung kelabakan seperti ikan yang kekurangan
air. Jika di tanya, barang apa yang
paling penting buatku, secara cepat aku akan menjawab notes. Karena disitulah
tempat aku menuliskan semua yang aku rasa, yang aku lihat dan yang aku
pikirkan. Disitulah banyak ide – ide gila yang tertulis dengan penuh optimisme.
Banyak tulisan seperti puisi, cerpen bahkan hal – hal yang tidak penting
sekalipun di dalamnya.
Saat sedang mempersiapkan Ujian Akhir
Nasional aku justru lebih memilih membawa notes kesayanganku dari pada buku –
buku pelajaran yang seharusnya menjadi buku wajib yang aku bawa dalam tas. Aku
sering ditegur oleh teman atau guru yang sedikit kesal melihat kesibukanku di
tengah pelajaran yang mereka ajarkan.
Pernah suatu ketika aku di marahi habis- habisan karena
tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru mata pelajaran Fisika. Lebih
tepatnya soal latihan langsung yang ia berikan saat materi baru selesai
dijelaskan. Tulisan yang harusnya berisi hitungan- hitungan konsep cahaya, pada
saat itu malah berubah menjadi runtuyan bait- bait puisi. Dan saat Guru
tersebut menanyakan soal latihannya kepadaku. Dengan polosnya aku hanya
tersenyum, nyengir 3 jari sambil menggaruk- garuk kepala yang tak gatal.
Setelah itu sudah di tebak apa yang terjadi padaku.
Salah satu teman menyebut masa ini sebagai
masa produktif sekaligus masa kelam buatku. Namun dengan kegiatan menulis yang
sering mengorbankan waktu belajar kala itu, aku masih bisa mengejar materi
pelajaran. Awalnya, aku mengalami penurunan prestasi akademik. Tetapi setelah
bisa mengendalikan mood dan kondisi ,
aku bisa berada pada posisi prestasiku yang sesungguhnya. Tetap bisa
membanggakan orang tua dan bisa bersaing sehat dengan teman– teman kelas yang
lain. Sebagai siswa yang masuk ke tingkat 10 besar prestasi akademik yang
lumayan bagus.
Terlalu mencintai menulis. Mungkin itu
kata yang tepat untuk mendeskripsikan masa- masa SMA. Tetapi bukan berarti aku
tidak menyukai hal lain selain menulis. Sebelum aku mengenal lebih dalam dengan
tulisan. Aku sempat pernah menyukai banyak hal yang membuatku menjadi anak
tersibuk dan teraktif di Sekolah. Dari mulai menjadi pengurus OSIS, mengikuti
kegiatan ekstrakulikuler sekolah dan juga ngeband. Salah satu yang paling
menonjol adalah olah raga. Bulutangkis, Basket, Volly, semuanya menjadi
kegemaranku. Beberapa orang menyadari bahwa aku memiliki potensi yang menonjol
dalam bidang olah raga. Termasuk orang tuaku. Dan yang paling berjasa dalam
mendobrak kemampuanku di bidang ini adalah Guru Olah Ragaku . Ibu Wulan yang
pada saat itu memberikanku kesempatan untuk lebih berkembang dalam bidang olah
raga. Beliau banyak mengajarkanku tentang semangat dan motivasi. Ketika seorang
wanita muslim menyukai olah raga itu bukanlah hambatan yang harus membuat
mereka terhenti. Justru ketika mengenakan jilbab kita harus lebih bangga. Kita harus
menunjukkan bahwa apa yang kita pakai bukanlah hambatan tetapi ciri khas.
Dengan potensi yang aku punya banyak
kesempatan untuk mengikuti lomba datang kepadaku. Tak jarang aku terpilih
menjadi satu- satunya perwakilah sekolah dalam perlombaan. Dan prestasi tertinggiku
adalah saat mampu menjadi juara ke 2 Lomba Lompat Jauh Putri se- Kota Bandung.
Apakah aku seorang Atlet ? pertanyaan
itulah yang mungkin mengisi benak setiap orang yang mengenalku. Bukan . Aku
bukan seorang Atlet. Aku hanya menyukai olah raga bukan ahli dalam olah raga.
Belum pantas rasanya gelar ‘Atlet’ di berikan kepadaku. Rasanya masih terlalu
jauh mendeskripsikan potensi yang ada dengan potensi seorang atelit sebenarnya.
Atelit itu identik dengan mempunyai prestasi yang banyak. Mempunyai banyak
piala , piagam dan penghargaan.
Sedangkan aku ? masih jauh dari kata
‘banyak memiliki piagam atau penghargaan’ bahkan piala pun aku tidak punya.
Hanya sebuah sertifikatlah yang menjadi bukti nyata bahwa aku pernah berkecimpung
di bidang olah raga.
Pernah suatu ketika ku gantungkan
banyak mimpi pada potensiku dalam bidang olah raga. Tetapi seketika mimpi itu
musnah saat ada beberapa hal yang membuatku tidak bisa lagi sepenuhnya fokus
dalam bidang olah raga. Bahkan sekarang aku tidak bisa lagi bebas berolah raga
seperti dulu. Dalam ke-galauan yang aku rasakan. Ku tuliskan semua ini dalam
sebuah puisi berjudul Angin. Tentang kegalauan ku dalam mimpi dan hobi. Tentang
apa sebenarnya mimpi dan keahlian yang harus aku tekuni. Dan tentang harapanku
mengenai mimpi.
Namun Allah mempunyai rencana lain
buatku. Beberapa bulan setalah mimpiku dalam bidang olah raga kandas. Allah
memberikan sebuah kejutan yang tak terasa olehku. Dia menyusupkan sebuah
potensi dari apa yang lagi- lagi aku sukai yaitu menulis. Menulis dari membaca.
Membaca untuk menulis.
Degan modal menulis lah aku memutuskan
untuk masuk ke salah satu Universitas Negeri dan mengambil jurusan yang tidak jauh
dari bidang yang aku sukai. Awalnya Ibuku sangat kaget ketika mengatahui aku
memilih jurusan tersebut karena sampai saat aku memberitahunya tentang
keinginanku, beliau belum tau bahwa aku bisa dan mampu untuk membuat sebuah
tulisan. Yang beliau tau selama ini hanyalah hobi baruku yaitu membaca bukan
menulis. Dan ada sedikit keraguan yang beliau lontarkan dalam beberapa
percakapan kami.
“Teteh yakin mau ngambil jurusan itu ?“
tanya Ibu saat kami sedang asik menonton televisi bersama.
“Hmmmm yakin atuh kan udah di pikirin,
teteh juga udah cari – cari info di Internet tentang jurusan itu“ jawabku
sambil tak memalingkan muka dari depan televisi.
“Coba, nanti kerjanya jadi apa ?” tanya
Ibu penasaran. Jujur saja mungkin jurusan yang aku ambil ini masih awam di
telinga orang banyak terutama Ibu dan seluruh keluargaku. Aku lah yang pertama
kali masuk ke jurusan itu. Dan aku jugalah yang pertama kali memilih jalur yang
berbeda dengan anggota keluargaku yang lain terutama keluarga dari Ibu.
“Nanti kerjanya bisa jadi penulis, bisa
juga jadi pembawa berita yang kayak di TV terus di Radio juga bisa pokonya
banyak deh “ jawabku singkat
“Emang, teteh bisa nulis gitu ? “
pertanyaan yang menurutku wajar di lontarkan oleh Ibu. Aku hanya tertawa kecil .
Lalu menjawab
“Ya bisa atuh, insyaallah bisa . Selama ini teteh baca novel
segitu banyaknya, eh gak banyak ketang ya lumayan lah, kan buat belajar nulis.
Teteh juga sering nulis- nulis di kertas notes yang putih. Tau kan ? Nah itu
tulisan teteh semua “
“Iya, itu yang tulisannya acak- acakan
tea “ timpal adikku di samping Ibu yang sedari tadi menguping pembicaraan.
“Oh ... “ jawab Ibu singkat.
Sampai akhirnya aku bisa membuktikan
itu pada Ibu. Dengan meminta do’a restu kepada beliau agar tulisanku di muat
saat aku akan mengirimkannya ke beberapa koran dan majalaah ternama. Meski
tulisan itu sampai sekarang belum juga ada yang berhasil menghiasi salah satu
halaman majalah atau koran. Dan kini menulis adalah bidang baru yang menjadi
awal mimpi- mimpi baruku tercipta.
0 komentar:
Posting Komentar